Laporan Praktikum
Dasar-Dasar Ilmu Tanah
WARNA TANAH
NAMA : NUR HIJRAH
NIM : G11115076
KELAS : DDIT C
KELOMPOK : 8
ASISTEN : RIRIN DYAH RAHAYU
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN
ILMU TANAH
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Warna tanah adalah
salah satu sifat fisik tanah yang lebuih banyak digunakan untuk mendeskripsikan
karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi
secara tidak langsung lewat dampoaknya terhadap temperature dan kelembaban
tanah.
Warna
tanah meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadang kala
dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tak
murni tetapi campuran kelabu, coklat, dan bercak (trus) kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut
karatan.
Warna tanah merupakan komposit
(campuran) dari warna-warna komponen-komponen terhadap warna komposit ini
secara langsung proporsional terhadap total permukaan tanah yang setara dengan
luas permukaan spesifik dikali proforsi volumetik masing-masingnya terhadap
tanah, misalnya humus dan besi hidroksida yang secara jelas menentukan warna
tanah.
Warna merupakan indicator kondisi
iklim terhadap tanh berkembang atau asal bahan induknya, tetapi pada kondisi
tertentu warna sering pula digunakan sebagai indicator kesuburan atau kapasitas
produktivitas lahan.
Warna tanah merupakan salah satu
dari ciri tanah yang jelas dan mudah terlihat dan barang kali sering digunakan
memberikan tanda dari pada ciri lain, khusunya orang awam. Warna tanah tidak
mendayai langsung pertumbuhan tanaman, akan tetapi tidak langsung lewat daya
pengaruhnya atas suhu dan lengas tranah. Warna tanah dapat menjadi petunjuk
proses pedogenesis yang telah dijalani oleh tanah dan komponen tanah yang
menonjol. Dalam banyak kasus kapasitas produksi tanah dapat ditentukan
berdasarkan warnanya.
Dapat dikatakan bahwa semua profil tanah dapat
memperlihatkan dari suatu horizon ke horizon berikutnya. Berdasarkan uraian
diatas maka perlu dilakukan pengamatan profil tanah dalam langkah awal
penelitian dan pengamatan terhadap tanah. Dari pengambilan sampel tanah yang
dilakukan pada berbagai lapisan tanh tersebut kita dapat mengetahui
karakteristik tanah, tekstur, dan warna tanah.
1.2 Tujuan dan kegunaan pustaka
Adapun tujuan dari
pengamatan warna tanah adalah untuk mengetahui pengaruh warna tanah dengan
sifat – sifat tanah. Sedangkan keguanaannya dari praktikum ini adalah untuk
menjadi bahan acuan dalam pelaksanaan analisa sampel tanah di laboratorium dan
sebagai bahan informasi dalm penggunaan suatu lahan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bale (2001), mengemukakan bahwa
tanah adalah suatu
benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari
bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang
merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi
akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk
wilayah dan lamanya waktu pertumbuhan.
Warna tanah
merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk
pendiskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap
tanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap
temperatur dan kelembaban tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah,
cokelat, kelabu, kuning, dan hitam, kadang kala dapat pula kebiruan atau
kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tak murni tetapi campuran
kelabu, cokelat dan bercak (rust), kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk
spot-spot, disebut karatan (mottling). Warna tanah merupakan komposit
(campuran) dari warna-warna komponen–komponen penyusunnya. Efek
komponen-komponen terhadap warna komposit ini secara langsung proporsional
terhadap total permukaan tanah yang setara dengan luas prmukaan spesifik dikali proporsi volumerik masing-masingnya
terhadap tanah, yang bermakna materi koloid mempunyai dampak terbesar terhadap
warna tanah, misalnya humus dan besi hidroksida yang secara jelas menetukan
warna tanah (Hanafiah, 2004).
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah
berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan
warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan
organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap.
Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna
tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di
daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh
tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+).
Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air,
Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3
(hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning
cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang
kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula bercak-bercak
karatan merah atau kuning, yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk,
sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut.
Menurut Hardjowigeno (1992), tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet
bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat
pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam
keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Berdasar
definisi tanah, dikenal lima macam faktor pembentuk tanah, yaitu Iklim, Kehidupan, Bahan induk, Topografi dan Waktu.
Dari
kelima faktor tersebut yang bebas pengaruhnya adalah iklim.
Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing
weathering. Secara garis besar proses pembentukan tanah
dibagi dalam dua tahap, yaitu proses pelapukan
dan proses perkembangan tanah (Hardjowigeno, 1992).
Warna
merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk
pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap
tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap
temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah,
coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau
kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran
kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot,
disebut karatan (Tan, 1995).
Menurut Tan ( 2009 ), Pengamatan warna tanah dengan indera
menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang
sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan
bahan organic, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam
menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah,
atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses
pembentukan tanah. Warna tanah juga sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di
dalamnya. Tanah yang kering, warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang
basah, hal ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
Menurut Madjid (2009), intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: (1) jenis mineral
dan jumlahnya, (2) kandungan bahan organik tanah, dan (3) kadar air tanah dan
tingkat hidratasi. Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur,
kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspar
menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah. Hematit dapat menyebabkan
warna tanah menjadi merah sampai merah tua. Makin tinggi kandungan bahan
organik maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit
kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang. Tanah
dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah menyebabkan
warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). Sedangkan tingkat hidratasi berkaitan
dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang ternyata mengarah ke warna
reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga kelabu hijau.
Struktur
tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu
sama lain. Ikatan tanah berbentuk sebagai
agregat tanah. Apabila syarat agregat tanah
terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar disebut
ped, sedangkan ikatan yang merupakan gumpalan
tanah yang sudah terbentuk akibat
penggarapan tanah disebut clod. Untuk
mendapatkan struktur tanah yang baik dan valid harus
dengan melakukan kegiatan dilapangan, sedang
laboratorium elatif sukar terutama dalam
mempertahankan keasliannya dari bentuk agregatnya.
Pengamatan
dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan
derajat struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi
bermacam-macam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type
lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ),
type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian
klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan sangat
kasar. Untuk semua type tanah dengan ukuran kelas berbeda-beda untuk
masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas
: tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah
lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung mudah pecah menjadi
pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak
lemah tanah. sedang/cukup yaitu tanah berbentuk agregat yang jelas yang
masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk
agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan
lagi atas sangat kuat dan cukupan (Koorevaar, 1987)
2.2 Warna sebagai
indicator kesuburan tanah
Menurut Suganda
(2014), kesuburan tanah sangatlah penting, apalagi bagi petani dan
pemerintahan. Karena kesuburan tanah dapat menentukan tanaman apa yang pas
untuk media tanah tersebut agar tetap ada penghijauan. Seperti yang sudah kita
ketahui, karena kurangnya penghijauan dan banyaknya polusi mengakibatkan
berbagai dampak negative, maka dari itu saya akan menjelaskan disini berbagai
tipe tanah, agar tetap menjadi media penghijauan tanpa ada alas an. Kita memang
tidak dapat mengetahui jenis tanah secara pasti. Sebab untuk itu diperlukan
keterangan mengenai struktur, kemasaman, horizon, dan keadaan air tanah. Kadang
– kadang ditambah lagi keterangan yang menyatakan ada tidaknya padatan mangan
besi.
Menurut Suganda (2014), warna tanah
lebih mudah dipakai untuk menduga tingkat kesuburannya. Secara tidak langsung
warna tersirat sebagai indicator kandungan bahan organik, tingkat perkembangan
tanah, kadar, dan kedalaman air tanah. Selain itu, warna juga menunjukkan
drainase dan aerasi yang berhubungan dengan proses oksidasi dan pencucian hara.
Secara umum, tanah yang berwarna kelabu hitam dapat diduga tergolong jenis
grumusol atau andosol. Sedang yang berwarna merah-cokelat-kuning, mungkin tanah
podsolik merah, kuning, laterit, latosol, atau mediteran. Secara ilmiah, tanah
grumusol baik untuk bertanam padi. Tanaman sayuran lebih cocok di tanah
andosol, lebih sesuai untuk tanaman karet.
Warna kelam umumnya menunjukkan
tingginya kadar bahan organic. Jika warna aslinya merah, bahan organic akan
menyebabkan warnanya menjadi merah kelam. Drainase dan aerasi tanah yang
berwarna kelam sangat baik. Kandungangan unsur hara sangat tinggi sehingga umumnya
cocok untuk budidaya tanaman hias, buah dan sayuran. Kesuburan tanah dan
pemupukan, kesuburan tanah di Indonesia yang berwarna putih miskin akan bahan
organic dan unsur hara (Suganda, 2014).
Tanah yang berwarna merah drainase
dan aerasinya baik, tetapi kandungan bahan organiknya rendah. Tingkat
perkembangan tanah umumnya sudah lanjut sehingga material berat dan tanah lapuk
yang tersisa, misalnya besi. Umumnya kedalam air pada tanah merah termaksud
dalam. Tanah yangbdberwarna kuning sifatnya menyuplai tanah merah. Bedanya,
jika warnanya cenderung kuning muda berarti banyak mengandung feri, ion besi
yang bialngan oksidasinya 3+. Tanah yang warnanya kelabu drainase dan aerasinya
jelak, sehingga penguraian bahan organic berlangsung lambat. Partikel penyusunnya
didomonasi oleh kuarsa, kaolin atau mineral liat. Kandungan unsur mangan,
aluminium dan magnesium biasanya tinggi, sehingga bersifat racun bagi tanaman.
Tanaman sayuran kebanyakan sangat peka terhadap kelebihan unsur – unsur ini
(Suganda, 2014).
Kadang-kadang juga ditemukan tanah
yang berwarna putih. Jika bukan karena kandungan kapurnya tinggi, kemungkinan
besar kandungan unsur litany yang tinggi. Sudah dipastikan tanah ini miskin
bahan organic. Drainase dan aerasiny juga buruk. Hindarkan pemakaian tanah yang
berwarna putih untuk budidaya tanaman. Berbagai alat modern yang saat ini sudah
sangat membantu pengecekan tipe tana, seperti pH meter tanah, kadar air tanah,
dan lain sebaginya (Suganda, 2014).
Warna kelabu dan keputih putihan
disebabkan berbagai bahan terutama kuarsa, kaolin, dan mineral – mineral
lempung, karbonat Cad an Mg, gips, macam – macam garam garam dan senyawa ferro.
Tanah – tanah yang kaya dengan senyawa ini warnanya mendekati warna biru. Tanah
yang sangat kelabu menandakan lapisan dan gejala gleisasi, dimana fe berbentuk
ferro. Tanah – tanah yang drainasenya buruk hamper selalu berbercak – bercak
(mottling) berwarna kelabu, cokelat, merah atau kuning, tertutama didalam zona
bidang phereatis. Tanah basah tanpa bahan organic mempunyai warna kelabu sangat
cerah, sedang adanya bahan organic warna kelabu makin basah makin kelam
(Suganda, 2014)
III METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan waktu
Praktikum warna tanah bertempat di
Pelataran Himti, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada
hari minggu, 15
oktober 2015 pukul 15.30 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
warna tanah yaitu meteran, buku Munsell
Soil Color Chart dan botol semprot. Adapun
bahan yang digunakan meliputi: tanah dari berbagai lapisan (jika memungkinkan dari horizon O, A,
dan B), tanah dari tanah dengan drainase jelek dan air.
3.3 Prosedur kerja
Adapun
prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:
1) Menyiapkan alat –
alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Meletakkan terlebih
dahulu beberapa kertas putih di atas meja atau media yang cukup dasar dan luas.
Jumlah kertas sesui dengan jumlah contoh tanah.
3) Meletakkan kurang
lebih segenggam contoh tanah pada masing-masing kertas putih (satu kertas diisi
satu contoh tanah)
4) Mengamati masing –
masing warna pada contoh tanah yang ada dengan menentukan jenis warna tanah
sesuai dengan pengelihatan mata secara
langsung.
5) Setelah mencatat
berdasarkan pengelihatan secara langsung. Bandingkan warna tanah pada
masing-masing contoh tanah dengan warna pada Munsell Soil Color Chart.
6) Mencatat klasifikasi
masing-masing warna tanah sesuai dengan Munsell Soil Color Chart.
7)Memberikan ulasan
singkat hasil kerja saudara dengan memberikan kesimpulan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari hasil pengamatan tentang penentuan warna tanah
menggunakan Munsell Soil Color Chart, dapat
dilihat dari tabel berikut :
Table.
3 Warna tanah
Lapisan
|
|
penulisan
|
Warna (Munsell Soil Color Chart)
|
||
Top soil
|
5 YR 4/2
|
Dark reddish gray
|
|||
Middle soil
|
5 YR 5/1
|
gray
|
|||
Sub soil
|
7,5 YR
5/2
|
gray
|
|||
Sumber
Data primer setelah diolah, 2015
4.2 Pembahasan
Dari praktikum warna tanah yang dilakuakan, didapatkan
hasil pada tiga lapisan tanah yang kami amati yaitu top soil, middle soil, dan
sub soil. Penentukan warna
tanah pada ketiga lapisan tipe tanah tersebut dilakukan satu kali dengan
mengambil sampel tanah terganggu dan mencocokkannya sesuai dengan Munsell Soil Color Chart. Pengamatan
tanah kering pada lapisan top soil didapatkan hasil Hue 5 YR 4/2 dengan warna Dark reddish gray, pada pengamatan tanah kering pada lapisan middle soil
didapatkan hasil Hue 5 YR 5/1 dengan
warna gray, sedangkan pada lapisan
tanah sub soil didapatkan hasil 7,5
YR 5/2
dengan warna
sama yaitu gray.
Warna tanah
dapat ditentukan dengan buku warna standar dari Munsell Soil Color Chart, meliputi penentuan warna dasar. Sehingga
dari penentuan warna tersebut kita dapat melihat bahwa setiap lapisan memiliki
perbandingan warna yang berbeda – beda. Penjelasan diatas menunjukkan bahwa
tanah pada setiap horizon – horizon berbeda-beda sesuai dengan pendapat Tan ( 2009 ), Pengamatan warna tanah dengan indera
menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang
sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan
bahan organic, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam
menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah,
atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses
pembentukan tanah. Warna tanah juga sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di
dalamnya. Tanah yang kering, warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang
basah, hal ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
V SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Warna tanah dapat dipakai sebagai petunjuk beberapa
sifat tanah sehingga sering disebut sebagai matriks tanah, dengan adanya warna
tanah kita dapat menarik informasi yang terkait dengan kondisi tanah tersebut.
Tanah yang berwarna gelap mencirikan kandungan bahan organik yang tinggi, warna
kelabu menunjukkan pengaruh air yang dominan, warna merah menunjukkan bahwa
tanah sudah mengalami pelapukan lanjut. Warnanya dapat berubah berdasarkan
kadar airnya.
5.2. Saran
Sebaiknya
dalam menentukan warna tanah harus menggunakan buku muncel
dari pada Aplikasinya karena lebih baik. Selain itu, lakukan dengan teliti agar
mendapatkan warna yang sesuai dengan tanah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bale,
A. 2001. Ilmu Tanah I .
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.
Foth,
H.D. 1998. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Madjid,
Abdul. 2009. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Bahan
Kuliah Online Fakultas Pertanian: Yogyakarta.
Munir,
M. 1996. Tanah-Tanah
Utama Indonesia.. PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta..
Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian The dan Kina :
Bandung.
Suganda, Husain, Achmad Rachman dan Sutono. 2014. Petunjuk mengambilan tanah. PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta..
Koorevaar, 1987. Tanah-tanah utama
Indonesia PT. Dunia Pustaka Jaya : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar