Rabu, 26 Juni 2019

Praktikum Warna Tanah


Laporan Praktikum
Dasar-Dasar Ilmu Tanah


WARNA TANAH











NAMA                        : NUR HIJRAH
NIM                            : G11115076
KELAS                       : DDIT C
KELOMPOK             : 8
ASISTEN                   : RIRIN DYAH RAHAYU



PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015




I. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Warna tanah adalah salah satu sifat fisik tanah yang lebuih banyak digunakan untuk mendeskripsikan karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung lewat dampoaknya terhadap temperature dan kelembaban tanah.
            Warna tanah meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadang kala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tak murni tetapi campuran kelabu, coklat, dan bercak (trus) kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan.
             Warna tanah merupakan komposit (campuran) dari warna-warna komponen-komponen terhadap warna komposit ini secara langsung proporsional terhadap total permukaan tanah yang setara dengan luas permukaan spesifik dikali proforsi volumetik masing-masingnya terhadap tanah, misalnya humus dan besi hidroksida yang secara jelas menentukan warna tanah.
             Warna merupakan indicator kondisi iklim terhadap tanh berkembang atau asal bahan induknya, tetapi pada kondisi tertentu warna sering pula digunakan sebagai indicator kesuburan atau kapasitas produktivitas lahan.
             Warna tanah merupakan salah satu dari ciri tanah yang jelas dan mudah terlihat dan barang kali sering digunakan memberikan tanda dari pada ciri lain, khusunya orang awam. Warna tanah tidak mendayai langsung pertumbuhan tanaman, akan tetapi tidak langsung lewat daya pengaruhnya atas suhu dan lengas tranah. Warna tanah dapat menjadi petunjuk proses pedogenesis yang telah dijalani oleh tanah dan komponen tanah yang menonjol. Dalam banyak kasus kapasitas produksi tanah dapat ditentukan berdasarkan warnanya.
             Dapat dikatakan bahwa semua profil tanah dapat memperlihatkan dari suatu horizon ke horizon berikutnya. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan pengamatan profil tanah dalam langkah awal penelitian dan pengamatan terhadap tanah. Dari pengambilan sampel tanah yang dilakukan pada berbagai lapisan tanh tersebut kita dapat mengetahui karakteristik tanah, tekstur, dan warna tanah.

1.2 Tujuan dan kegunaan pustaka
Adapun tujuan dari pengamatan warna tanah adalah untuk mengetahui pengaruh warna tanah dengan sifat – sifat tanah. Sedangkan keguanaannya dari praktikum ini adalah untuk menjadi bahan acuan dalam pelaksanaan analisa sampel tanah di laboratorium dan sebagai bahan informasi dalm penggunaan suatu lahan.

II.  TINJAUAN PUSTAKA
Bale (2001), mengemukakan bahwa tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pertumbuhan.
            Warna tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendiskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembaban tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, cokelat, kelabu, kuning, dan hitam, kadang kala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tak murni tetapi campuran kelabu, cokelat dan bercak (rust), kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (mottling). Warna tanah merupakan komposit (campuran) dari warna-warna komponen–komponen penyusunnya. Efek komponen-komponen terhadap warna komposit ini secara langsung proporsional terhadap total permukaan tanah yang setara dengan luas prmukaan spesifik  dikali proporsi volumerik masing-masingnya terhadap tanah, yang bermakna materi koloid mempunyai dampak terbesar terhadap warna tanah, misalnya humus dan besi hidroksida yang secara jelas menetukan warna tanah (Hanafiah, 2004).
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula bercak-bercak karatan merah atau kuning, yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut.       
Menurut Hardjowigeno (1992), tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan   relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Berdasar definisi tanah, dikenal lima macam faktor pembentuk tanah, yaitu Iklim, Kehidupan, Bahan induk, Topografi dan Waktu.
Dari  kelima  faktor  tersebut yang bebas  pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis  besar  proses  pembentukan  tanah  dibagi  dalam  dua  tahap,  yaitu proses  pelapukan dan proses perkembangan tanah  (Hardjowigeno, 1992).
Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak digunakan untuk pendeskripsian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek langsung terhadap tetanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat dampaknya terhadap temperatur dan kelembapan tanah. Warna tanah dapat meliputi putih, merah, coklat, kelabu, kuning dan hitam, kadangkala dapat pula kebiruan atau kehijauan. Kebanyakan tanah mempunyai warna yang tidak murni, tetapi campuran kelabu, coklat dan bercak, kerapkali 2-3 warna terjadi dalam bentuk spot-spot, disebut karatan (Tan, 1995).
Menurut Tan ( 2009 ), Pengamatan warna tanah dengan indera menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan bahan organic, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah, atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses pembentukan tanah. Warna tanah juga sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di dalamnya. Tanah yang kering, warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang basah, hal ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
Menurut Madjid (2009), intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: (1) jenis mineral dan jumlahnya, (2) kandungan bahan organik tanah, dan (3) kadar air tanah dan tingkat hidratasi. Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspar menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah. Hematit dapat menyebabkan warna tanah menjadi merah sampai merah tua. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang. Tanah dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah menyebabkan warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). Sedangkan tingkat hidratasi berkaitan dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang ternyata mengarah ke warna reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga kelabu hijau.
Struktur tanah merupakan susunan  ikatan partikel  tanah  satu  sama  lain. Ikatan  tanah  berbentuk  sebagai  agregat  tanah.  Apabila  syarat  agregat  tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar  disebut  ped,  sedangkan ikatan  yang  merupakan  gumpalan  tanah  yang  sudah   terbentuk  akibat penggarapan  tanah  disebut  clod.  Untuk  mendapatkan  struktur tanah yang baik dan valid  harus  dengan  melakukan  kegiatan  dilapangan,  sedang laboratorium elatif  sukar  terutama  dalam  mempertahankan  keasliannya  dari bentuk agregatnya.
Pengamatan dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan  sangat kasar. Untuk semua type tanah  dengan ukuran kelas berbeda-beda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung  mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah. sedang/cukup yaitu tanah  berbentuk agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan  (Koorevaar, 1987)

2.2 Warna sebagai indicator kesuburan tanah
Menurut Suganda (2014), kesuburan tanah sangatlah penting, apalagi bagi petani dan pemerintahan. Karena kesuburan tanah dapat menentukan tanaman apa yang pas untuk media tanah tersebut agar tetap ada penghijauan. Seperti yang sudah kita ketahui, karena kurangnya penghijauan dan banyaknya polusi mengakibatkan berbagai dampak negative, maka dari itu saya akan menjelaskan disini berbagai tipe tanah, agar tetap menjadi media penghijauan tanpa ada alas an. Kita memang tidak dapat mengetahui jenis tanah secara pasti. Sebab untuk itu diperlukan keterangan mengenai struktur, kemasaman, horizon, dan keadaan air tanah. Kadang – kadang ditambah lagi keterangan yang menyatakan ada tidaknya padatan mangan besi.
            Menurut Suganda (2014), warna tanah lebih mudah dipakai untuk menduga tingkat kesuburannya. Secara tidak langsung warna tersirat sebagai indicator kandungan bahan organik, tingkat perkembangan tanah, kadar, dan kedalaman air tanah. Selain itu, warna juga menunjukkan drainase dan aerasi yang berhubungan dengan proses oksidasi dan pencucian hara. Secara umum, tanah yang berwarna kelabu hitam dapat diduga tergolong jenis grumusol atau andosol. Sedang yang berwarna merah-cokelat-kuning, mungkin tanah podsolik merah, kuning, laterit, latosol, atau mediteran. Secara ilmiah, tanah grumusol baik untuk bertanam padi. Tanaman sayuran lebih cocok di tanah andosol, lebih sesuai untuk tanaman karet.
            Warna kelam umumnya menunjukkan tingginya kadar bahan organic. Jika warna aslinya merah, bahan organic akan menyebabkan warnanya menjadi merah kelam. Drainase dan aerasi tanah yang berwarna kelam sangat baik. Kandungangan unsur hara sangat tinggi sehingga umumnya cocok untuk budidaya tanaman hias, buah dan sayuran. Kesuburan tanah dan pemupukan, kesuburan tanah di Indonesia yang berwarna putih miskin akan bahan organic dan unsur hara (Suganda, 2014).
            Tanah yang berwarna merah drainase dan aerasinya baik, tetapi kandungan bahan organiknya rendah. Tingkat perkembangan tanah umumnya sudah lanjut sehingga material berat dan tanah lapuk yang tersisa, misalnya besi. Umumnya kedalam air pada tanah merah termaksud dalam. Tanah yangbdberwarna kuning sifatnya menyuplai tanah merah. Bedanya, jika warnanya cenderung kuning muda berarti banyak mengandung feri, ion besi yang bialngan oksidasinya 3+. Tanah yang warnanya kelabu drainase dan aerasinya jelak, sehingga penguraian bahan organic berlangsung lambat. Partikel penyusunnya didomonasi oleh kuarsa, kaolin atau mineral liat. Kandungan unsur mangan, aluminium dan magnesium biasanya tinggi, sehingga bersifat racun bagi tanaman. Tanaman sayuran kebanyakan sangat peka terhadap kelebihan unsur – unsur ini (Suganda, 2014).
            Kadang-kadang juga ditemukan tanah yang berwarna putih. Jika bukan karena kandungan kapurnya tinggi, kemungkinan besar kandungan unsur litany yang tinggi. Sudah dipastikan tanah ini miskin bahan organic. Drainase dan aerasiny juga buruk. Hindarkan pemakaian tanah yang berwarna putih untuk budidaya tanaman. Berbagai alat modern yang saat ini sudah sangat membantu pengecekan tipe tana, seperti pH meter tanah, kadar air tanah, dan lain sebaginya (Suganda, 2014).
            Warna kelabu dan keputih putihan disebabkan berbagai bahan terutama kuarsa, kaolin, dan mineral – mineral lempung, karbonat Cad an Mg, gips, macam – macam garam garam dan senyawa ferro. Tanah – tanah yang kaya dengan senyawa ini warnanya mendekati warna biru. Tanah yang sangat kelabu menandakan lapisan dan gejala gleisasi, dimana fe berbentuk ferro. Tanah – tanah yang drainasenya buruk hamper selalu berbercak – bercak (mottling) berwarna kelabu, cokelat, merah atau kuning, tertutama didalam zona bidang phereatis. Tanah basah tanpa bahan organic mempunyai warna kelabu sangat cerah, sedang adanya bahan organic warna kelabu makin basah makin kelam (Suganda, 2014)
  
III  METODE PRAKTIKUM
3.1  Tempat dan waktu
Praktikum warna tanah bertempat di Pelataran Himti, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada hari minggu, 15 oktober 2015 pukul 15.30 WITA sampai selesai.

3.2  Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum warna tanah yaitu meteran, buku Munsell Soil Color Chart dan botol semprot. Adapun  bahan yang digunakan meliputi: tanah dari berbagai  lapisan (jika memungkinkan dari horizon O, A, dan B), tanah dari tanah dengan drainase jelek dan air.
3.3       Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:
1) Menyiapkan alat – alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Meletakkan terlebih dahulu beberapa kertas putih di atas meja atau media yang cukup dasar dan luas. Jumlah kertas sesui dengan jumlah contoh tanah.
3) Meletakkan kurang lebih segenggam contoh tanah pada masing-masing kertas putih (satu kertas diisi satu contoh tanah)
4) Mengamati masing – masing warna pada contoh tanah yang ada dengan menentukan jenis warna tanah sesuai  dengan pengelihatan mata secara langsung.
5) Setelah mencatat berdasarkan pengelihatan secara langsung. Bandingkan warna tanah pada masing-masing contoh tanah dengan warna pada Munsell Soil Color Chart.
6) Mencatat klasifikasi masing-masing warna tanah sesuai  dengan Munsell Soil Color Chart.
7)Memberikan ulasan singkat hasil kerja saudara dengan memberikan   kesimpulan.



IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
Dari hasil  pengamatan tentang penentuan warna tanah menggunakan Munsell Soil Color Chart, dapat dilihat dari tabel berikut :
Table. 3 Warna tanah
       Lapisan

penulisan
Warna (Munsell Soil Color     Chart)

Top soil
5 YR 4/2
Dark reddish gray
Middle soil
5 YR 5/1
gray
Sub soil
7,5 YR 5/2
gray
Sumber Data primer setelah diolah, 2015
4.2 Pembahasan
     Dari praktikum warna tanah yang dilakuakan, didapatkan hasil pada tiga lapisan tanah yang kami amati yaitu top soil, middle soil, dan sub soil. Penentukan                                                   warna tanah pada ketiga lapisan tipe tanah tersebut dilakukan satu kali dengan mengambil sampel tanah terganggu dan mencocokkannya sesuai dengan Munsell Soil Color Chart. Pengamatan tanah kering pada lapisan top soil didapatkan hasil Hue 5 YR 4/2  dengan warna Dark reddish gray, pada pengamatan tanah kering pada lapisan middle soil didapatkan hasil Hue 5 YR 5/1 dengan warna gray, sedangkan pada lapisan tanah sub soil didapatkan hasil  7,5 YR 5/2 dengan warna sama yaitu gray. Warna tanah dapat ditentukan dengan buku warna standar dari Munsell Soil Color Chart, meliputi penentuan warna dasar. Sehingga dari penentuan warna tersebut kita dapat melihat bahwa setiap lapisan memiliki perbandingan warna yang berbeda – beda. Penjelasan diatas menunjukkan bahwa tanah pada setiap horizon – horizon berbeda-beda sesuai dengan pendapat Tan ( 2009 ), Pengamatan warna tanah dengan indera menunjukkan warna tanah yang bervariasi, menggambarkan petunjuk tentang sifat-sifat tanah. Sifat tanah yang berkaitan dengan warna tanah kandungan bahan organic, kondisi drainase dan serasi. Warna tanah digunakan dalam menentukan klasifikasi tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon tanah, atas dasar warnanya yang muncul sebagai akibat gaya-gaya aktif dalam proses pembentukan tanah. Warna tanah juga sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di dalamnya. Tanah yang kering, warnanya lebih muda dibandingkan dengan tanah yang basah, hal ini karena bahan koloid yang kehilangan air.
    
V SIMPULAN DAN SARAN

5.1.   Simpulan
Warna tanah dapat dipakai sebagai petunjuk beberapa sifat tanah sehingga sering disebut sebagai matriks tanah, dengan adanya warna tanah kita dapat menarik informasi yang terkait dengan kondisi tanah tersebut. Tanah yang berwarna gelap mencirikan kandungan bahan organik yang tinggi, warna kelabu menunjukkan pengaruh air yang dominan, warna merah menunjukkan bahwa tanah sudah mengalami pelapukan lanjut. Warnanya dapat berubah berdasarkan kadar airnya.
5.2.   Saran
Sebaiknya dalam menentukan warna tanah harus menggunakan buku muncel dari pada Aplikasinya karena lebih baik. Selain itu, lakukan dengan teliti agar mendapatkan warna yang sesuai dengan tanah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Bale, A. 2001. Ilmu Tanah I . Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.
Foth, H.D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
Madjid, Abdul. 2009. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Bahan Kuliah Online Fakultas Pertanian: Yogyakarta.
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia..  PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta..
Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian The dan Kina : Bandung.
Suganda, Husain, Achmad Rachman dan Sutono. 2014. Petunjuk mengambilan tanah. PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta..
Koorevaar, 1987. Tanah-tanah utama Indonesia PT. Dunia Pustaka Jaya : Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar